Tori = ayam. Tama = telur.
Sebuah nama sederhana untuk obsesi yang sederhana: memanggang ayam sebaik mungkin.
Lahir dari tradisi yakitori Tokyo.
Konsep Toritama berakar di kedai yakitori Shirokane, Tokyo — counter kayu, panggangan arang, dan chef yang membalik tusuk satu per satu. Di Jakarta, kami membawa semangat yang sama ke Mega Kuningan: tempat untuk pulang kerja, merayakan sesuatu, atau sekadar menikmati sebotol sake bersama teman.
Kami memakai seluruh bagian ayam (nose-to-tail). Paha dan dada untuk yang baru mengenal yakitori; hati, jantung, tulang rawan, hingga chōchin — kuning telur muda — untuk yang ingin bertualang.
Cara menikmati Toritama
Pilih tempat duduk
Counter untuk melihat chef beraksi, meja untuk ngobrol santai, private room untuk rombongan.
Mulai dari omakase
Belum yakin? Pesan set 7 atau 10 tusuk — chef menyusun urutan rasa dari ringan ke kaya.
Tambah satuan
Suka yang mana? Pesan lagi per tusuk, langsung dari pelayan atau QR di meja.
Kursi counter terbatas — amankan malam Anda.
Pilih tanggal, jam, dan jumlah tamu. Kami konfirmasi lewat WhatsApp.